8. Keinginan Bapak
10.23 WIB
203 km menuju Banyuwangi
Memasuki wilayah Probolinggo. Jalanannya kini terasa jauh lebih lebar, dengan jalur lurus panjang dan dengan aspal yang lebih halus. Yatra bisa memacu motor scrambler nya sedikit lebih kencang walaupun masih ia harus tetap berhati- hati, sebab truk dan bus pun juga melaju kencang.
Banyak mobil keluarga maupun grup turing motor yang berpisah jalur dengan Yatra di sini— kemungkinan besar mereka akan menuju Bromo untuk menghabiskan long weekend.
Yatra masih harus meneruskan perjalanannya ke Timur. Walaupun jarak yang harus ditempuh masih terbilang jauh, namun Yatra merasa lebih nyaman dengan jalur di sini.
Pepohonan besar membuat suasananya terasa lebih sejuk. Arus kendaraan pun tidak sepadat di wilayah Bangil dan Pasuruan.
Begitu memasuki wilayah kota, Yatra berbelok ke sebuah SPBU. Ia perlu mengisi ulang tangki motornya.
Yantra mengambil jalur antrian motor yang sedikit panjang.
Yatra mematikan mesin motor sembari mengantri, dan sejenak melepas helm pilotnya. Ia mengusap wajahnya yang terasa panas, menghela nafas.
"..."
Mengantri tepat di depan Yatra, adalah seorang lelaki yang mengendarai matic. Mungkin seusianya— atau bahkan lebih muda.
Di boncengan belakang, duduk seorang perempuan mengenakan gamis dan jilbab lebar. Ia menggendong seorang bayi gemuk dengan topi kuping beruang.
Tak ada yang spesial.
Namun Yatra tak bisa melepas pandangannya. Ia terdiam menatap bagaimana perempuan itu bercanda— menggelitik dagu berlipat si bayi yang tertawa riang dengan kedua tangan terangkat. Suara tawa bayi yang menggemaskan— menyatu dengan suara tawa ibu yang kalem. Sementara pemuda itu tersenyum melihat keluarga kecilnya.
Yantra menghela nafas.
"Kamu sudah punya pacar, Le?"
Ibu pernah bertanya itu, suatu sore.
"Hah?," jawab Yatra sambil terus menginput angka untuk melakukan kalkulasi. Sore itu ibu menelponnya setelah Yatra mengirim uang selepas gajian. "Kenapa tiba- tiba nanya itu?"
"Yang kapan lalu itu, pas waktu ibu jenguk kamu itu?" tanya ibu lagi agak penasaran— sebab ia melihat ada dua gadis di kamar rawat anaknya.
"Pacarmu yang mana?"
Nitya dan Santi.
Yatra melirik Nitya di sebelahnya.
Nitya yang sedang mengetik email untuk dikirim ke salah satu klien. Rambut bob nya jatuh membentuk lengkung. Ia menyibak rambut itu ke belakang telinga, mengekspos garis rahang halus dan bibir yang lembut.
"..."
"Nggak ada Bu," jawab Yatra cepat. "Bukan dua- duanya."
"Loh masak? Padahal cantik- cantik loh anaknya," seloroh ibu. "Tak pikir malah dua- duanya pacarmu."
"Bu—"
"Siapa Bu?" suara Bapak terdengar di seberang. "Telponan sama Yatra ya? "
Dari seberang, terdengar ibu menyerahkan telpon ke Bapak.
"Halo?" ujar suara menggelegar di seberang.
Bapak memang kalau telepon tidak pernah mengatur desibel, takut yang di seberang tidak akan mendengar suaranya. "Ini loh— anak Pak Supri kemarin habis lahiran. Ibu jadi kepingin juga gendong cucu juga katanya."
"Heh, kan Bapak yang kepingin?" sahut ibu di belakang. "Pake ibu yang disalahin."
"Aku sudah ikhlas kamu kerja di Surabaya," ujar Bapak lagi sambil— sepertinya berebut telepon dengan ibu. "Tapi kamu jangan pulang kalau nggak bawa pacar. Masa kalah sama aku waktu dapetin ibumu?"
"PAK—" seru ibu.
"..."
Yatra hanya terdiam di kursinya, tangan melayang di atas keyboard. Ia tersenyum mendengar keributan Bapak dan Ibu di rumah. Yang sudah lama tidak ia dengar.
Yatra menarik nafas.
-----
Ia mendorong maju motornya— antrian bensin sudah bergerak. Ia masih memperhatikan bagaimana perempuan berjilbab itu bermain cilukba dengan bayinya.
Yatra mencoba membayangkan adegan itu, dengan dirinya dan Nitya.
"Nggak mungkin," Yatra terkekeh.
Sebab Nitya adalah gadis yang bebas. Sampai sekarang, Yatra tidak menemukan ada keinginan settle dari gadis itu. Hubungannya dengan Nitya juga— entahlah, tidak jelas.
Kadang kedekatan mereka melebihi orang berpacaran. Kadang juga lebih cuek daripada orang yang tidak mengenal.
Yatra dan Nitya hanyalah teman, yang terkadang jalan berdua menghabiskan waktu untuk makan bareng atau nonton.
Itu saja.
Tak ada hubungan emosional di antara mereka.
Sesudah mengisi ulang tangki nya hingga penuh, Yatra menstarter motornya. Lalu meluncur keluar dari area SPBU. Tak jauh dari sana, ia berpapasan lagi dengan si pemuda dan keluarga kecilnya.
Adegan kecil di depannya itu rasanya masih sangat jauh dari gapaian Yatra. Bahkan sampai saat ini ia tak punya gambaran tentang siapa yang akan mendampinginya nanti.
Yang berarti, ia masih belum bisa memenuhi keinginan Bapak.
Yatra mengoper perseneling ke gear dua.
Dan lalu melajukan motornya lebih cepat.
203 km menuju Banyuwangi
Memasuki wilayah Probolinggo. Jalanannya kini terasa jauh lebih lebar, dengan jalur lurus panjang dan dengan aspal yang lebih halus. Yatra bisa memacu motor scrambler nya sedikit lebih kencang walaupun masih ia harus tetap berhati- hati, sebab truk dan bus pun juga melaju kencang.
Banyak mobil keluarga maupun grup turing motor yang berpisah jalur dengan Yatra di sini— kemungkinan besar mereka akan menuju Bromo untuk menghabiskan long weekend.
Yatra masih harus meneruskan perjalanannya ke Timur. Walaupun jarak yang harus ditempuh masih terbilang jauh, namun Yatra merasa lebih nyaman dengan jalur di sini.
Pepohonan besar membuat suasananya terasa lebih sejuk. Arus kendaraan pun tidak sepadat di wilayah Bangil dan Pasuruan.
Begitu memasuki wilayah kota, Yatra berbelok ke sebuah SPBU. Ia perlu mengisi ulang tangki motornya.
Yantra mengambil jalur antrian motor yang sedikit panjang.
Yatra mematikan mesin motor sembari mengantri, dan sejenak melepas helm pilotnya. Ia mengusap wajahnya yang terasa panas, menghela nafas.
"..."
Mengantri tepat di depan Yatra, adalah seorang lelaki yang mengendarai matic. Mungkin seusianya— atau bahkan lebih muda.
Di boncengan belakang, duduk seorang perempuan mengenakan gamis dan jilbab lebar. Ia menggendong seorang bayi gemuk dengan topi kuping beruang.
Tak ada yang spesial.
Namun Yatra tak bisa melepas pandangannya. Ia terdiam menatap bagaimana perempuan itu bercanda— menggelitik dagu berlipat si bayi yang tertawa riang dengan kedua tangan terangkat. Suara tawa bayi yang menggemaskan— menyatu dengan suara tawa ibu yang kalem. Sementara pemuda itu tersenyum melihat keluarga kecilnya.
Yantra menghela nafas.
"Kamu sudah punya pacar, Le?"
Ibu pernah bertanya itu, suatu sore.
"Hah?," jawab Yatra sambil terus menginput angka untuk melakukan kalkulasi. Sore itu ibu menelponnya setelah Yatra mengirim uang selepas gajian. "Kenapa tiba- tiba nanya itu?"
"Yang kapan lalu itu, pas waktu ibu jenguk kamu itu?" tanya ibu lagi agak penasaran— sebab ia melihat ada dua gadis di kamar rawat anaknya.
"Pacarmu yang mana?"
Nitya dan Santi.
Yatra melirik Nitya di sebelahnya.
Nitya yang sedang mengetik email untuk dikirim ke salah satu klien. Rambut bob nya jatuh membentuk lengkung. Ia menyibak rambut itu ke belakang telinga, mengekspos garis rahang halus dan bibir yang lembut.
"..."
"Nggak ada Bu," jawab Yatra cepat. "Bukan dua- duanya."
"Loh masak? Padahal cantik- cantik loh anaknya," seloroh ibu. "Tak pikir malah dua- duanya pacarmu."
"Bu—"
"Siapa Bu?" suara Bapak terdengar di seberang. "Telponan sama Yatra ya? "
Dari seberang, terdengar ibu menyerahkan telpon ke Bapak.
"Halo?" ujar suara menggelegar di seberang.
Bapak memang kalau telepon tidak pernah mengatur desibel, takut yang di seberang tidak akan mendengar suaranya. "Ini loh— anak Pak Supri kemarin habis lahiran. Ibu jadi kepingin juga gendong cucu juga katanya."
"Heh, kan Bapak yang kepingin?" sahut ibu di belakang. "Pake ibu yang disalahin."
"Aku sudah ikhlas kamu kerja di Surabaya," ujar Bapak lagi sambil— sepertinya berebut telepon dengan ibu. "Tapi kamu jangan pulang kalau nggak bawa pacar. Masa kalah sama aku waktu dapetin ibumu?"
"PAK—" seru ibu.
"..."
Yatra hanya terdiam di kursinya, tangan melayang di atas keyboard. Ia tersenyum mendengar keributan Bapak dan Ibu di rumah. Yang sudah lama tidak ia dengar.
Yatra menarik nafas.
-----
Ia mendorong maju motornya— antrian bensin sudah bergerak. Ia masih memperhatikan bagaimana perempuan berjilbab itu bermain cilukba dengan bayinya.
Yatra mencoba membayangkan adegan itu, dengan dirinya dan Nitya.
"Nggak mungkin," Yatra terkekeh.
Sebab Nitya adalah gadis yang bebas. Sampai sekarang, Yatra tidak menemukan ada keinginan settle dari gadis itu. Hubungannya dengan Nitya juga— entahlah, tidak jelas.
Kadang kedekatan mereka melebihi orang berpacaran. Kadang juga lebih cuek daripada orang yang tidak mengenal.
Yatra dan Nitya hanyalah teman, yang terkadang jalan berdua menghabiskan waktu untuk makan bareng atau nonton.
Itu saja.
Tak ada hubungan emosional di antara mereka.
Sesudah mengisi ulang tangki nya hingga penuh, Yatra menstarter motornya. Lalu meluncur keluar dari area SPBU. Tak jauh dari sana, ia berpapasan lagi dengan si pemuda dan keluarga kecilnya.
Adegan kecil di depannya itu rasanya masih sangat jauh dari gapaian Yatra. Bahkan sampai saat ini ia tak punya gambaran tentang siapa yang akan mendampinginya nanti.
Yang berarti, ia masih belum bisa memenuhi keinginan Bapak.
Yatra mengoper perseneling ke gear dua.
Dan lalu melajukan motornya lebih cepat.
Other Stories
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...
After Meet You
kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Nona Manis ( Halusinada )
Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...